1. Pendahuluan

Kegiatan belajar dalam keseluruhan proses pendidikan di sekolah merupakan kegiatan yang paling pokok. Pembelajaran berlangsung sebagai suatu proses saling mempengaruhi antara guru dan siswa. Dalam hal ini, kegiatan yang terjadi adalah guru mengajar dan siswa belajar. Ini berarti bahwa berhasil tidaknya pencapaian tujuan pendidikan, banyak bergantung pada proses yang dialami oleh siswa sebagai anak didik. Tujuan pendidikan di sekolah harus mampu mendukung kompetensi alumni, yaitu pengetahuan, nilai, sikap, dan kemampuan siswa untuk dapat mendekatkan dirinya dengan lingkungan, sosial, dan kebutuhan daerah, menurut Slameto (dalam Sanjaya, 2015: 1).

 Pembelajaran yang bermakna akan membawa siswa pada pengalaman belajar yang mengesankan. Pengalaman yang diperoleh siswa akan semakin berkesan apabila proses pembelajaran yang diperolehnya merupakan hasil dari pemahaman dan kreatif siswa sendiri. Proses pembelajaran yang berlangsung melibatkan siswa sepenuhnya untuk suatu kreatif sendiri. Keterlibatan guru hanya sebagai fasilitator dan moderator dalam proses pembelajaran tersebut. Untuk mencapai itu, pendidikan harus beradaptasi terhadap perubahan zaman.

Dalam hal ini guru harus memperhatikan minat dan kemampuan siswa, serta bimbingan guru sangat diperlukan dalam peningkatan hasil belajar siswa. Disamping itu profesional guru dan minat siswa terhadap pelajaran merupakan faktor yang penting dalam meningkatkan hasil belajar siswa. Karena guru yang profesional dalam memberikan materi akan membangkitkan minat siswa dalam mengikuti pembelajaran. Peran guru dalam proses pembelajaran, bukanlah mendominasi tetapi membimbing dan mengarahkan siswa untuk aktif memperoleh pemahamannya berdasarkan segala informasi yang siswa temukan dari lingkungannya.

Keaktifan siswa merupakan salah satu prinsip utama dalam proses pembelajaran. Pengalaman belajar hanya dapat diperoleh jika siswa aktif berinteraksi dengan lingkungannya. Seorang guru dapat menyajikan dan menyediakan bahan pelajaran, tapi siswa yang mengolah dan mencernanya sendiri sesuai kemauan, kemampuan, bakat, dan latar belakangnya. Sedangkan siswa belum terlibat secara aktif dalam pembelajaran.

Secara umum, keaktifan siswa dalam pembelajaran tergolong rendah, hal ini terlihat dari siswa tidak banyak bertanya, aktivitas siswa terbatas pada mendengarkan, mencatat, dan menjawab pertanyaan bila guru memberi pertanyaan, siswa hadir di kelas dengan persiapan belajar yang tidak memadai, ribut jika diberi latihan, dan siswa hanya diam ketika ditanya sudah mengerti atau belum. Kenyataan ini belum menunjukkan ke arah pembelajaran yang bermakna. Sistem pembelajaran duduk tenang, mendengarkan informasi dari guru sepertinya sudah membudaya sejak dulu, sehingga untuk mengadakan perubahan ke arah pembelajaran yang aktif, kreatif, dan menyenangkan agak sulit.

Rendahnya keaktifan belajar siswa juga terlihat dalam pembelajaran Produk Kreatif dan Kewirausahaan. Selama ini pembelajaran PKK harus memerlukan bimbingan kepada guru pengajar ke siswa dikarenakan kurangnya keaktifan belajar siswa sebab terfokus kepada guru. Untuk memahami, siswa harus aktif sehingga dapat mengembangkan kemampuannya dalam melakukan kegiatan pembelajaran dengan cara mengenal berbagai ide-ide dan seni yang ada di siswa, memahami konsep dan teori, serta berlatih memecahkan berbagai masalah yang terjadi pada siswa. Berdasarkan uraian diatas, maka peneliti memiliki peluang yang besar untuk menerapkan model pembelajaran PjBL (Project Based Learning) pada mata pelajaran Produk Kreatif dan Kewirausahaan di kelas XII Perbankan Syariah SMK Muhammadiyah 1 Cilacap untuk meningkatkan hasil belajar siswa.

Selama proses pembelajaran dengan model pembelajaran Project Based Lerning terdapat bebrapa kendala seperti ada kelompok yang belum mengerjakan tugas secara terstruktur dan waktu penyelesaiannya lebih lambat. Hal ini dikarenakan kemampuan siswa dalam perencanaan dan keterampilan siswa yang kurang. Siswa belum mampu merencanakan konsep dengan matang.

B. Pembahasan

Proses pembelajaran di kelas XII Perbankan Syariah menerapkan model pembelajaran Project Based Learning. Menurut Aria Yulianto (2017) terdapat 6 sintak dalam pembelajaran model PJBL yaitu 1) menentukan pertanyaan dasar, 2) membuat desain proyek, 3) menyusun penjadwalan, 4) memonitor kemajuan proyek, 5) penilaian hasil, 6) Evaluasi pengalaman. Untuk mengatasi kelemahan model Problem Based Learning maka digunakan tutor feedback pada saat proses pembelajaran dengan tujuan meminimalisir dan memberikan arahan agar tujuan pembelajaran dapat berjalan dengan baik. Dengan tutor feedback siswa akan lebih memahami apa yang harus dilakukan sehingga dapat menyelesaikan tugas yang diberikan sesuai dengan waktunya.

Hasil dari proses pembelajaran menggunakan model Project Based Learning memberikan dampak positif yaitu hasil belajar siswa melalui soal pretest dan post test menggunakan aplikasi quizziz memperoleh hasil rekapitulasi berikut ini :

NO.KeteranganPre TestPost Test
1.Jumlah Siswa3030
2.Jumlah Siswa yang Tuntas1225
3.Prosentase40%83%
4.Peningkatan43%
Tabel Hasi Belajar Siswa

Melalui tabel diatas diperoleh peningkatan hasil belajar sebesar 43% dengan prosentase ketuntasan pada pretest sebesar 40% dan kemudian pada postest prosentase ketuntasan 83%. Hasil belajar siswa kelas XII PBS telah memenuhi ketuntasan klasikal yang diharapkan. Selain itu, kelebihan penerapan model Project Based Learning (PBL) melibatkan siswa untuk belajar mengumpulkan informasi dan menerapkan pengetahuan tersebut untuk menyelesaikan permasalahan di dunia nyata. Selain itu mereka merasakan perbedaan antara model pembelajaran yang sebelumnya dengan model pembelajaran PjBL bahwa model pembelajaran PjBL lebih memudahkan mereka dalam memahami materi.

C. Kesimpulan

Penggunaan model pembelajaran berbasis proyek pada mata pelajaran Produk Kreatif dan Kewirausahaan ternyata mengalami peningkatan dibandingkan dengan hasil belajar sebelum menggunakan model pembelajaran berbasis proyek. Hal ini dapat dilihat dari hasil perolehan nilai sebelum menggunakan model pembelajaran berbasis proyek dengan perolehan nilai setelah menggunakan model pembelajaran berbasis proyek meningkat menjadi kategori tinggi.

Tin Sumarni

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *